Budaya membaca adalah fondasi utama pembangunan literasi bangsa. Namun, bagaimana cara memastikan bahwa masyarakat Indonesia benar-benar memiliki kegemaran membaca? Untuk menjawab hal ini, Perpustakaan Nasional RI mengembangkan instrumen TKM (Tingkat Kegemaran Membaca) 2025 sebagai salah satu tolok ukur nasional.
Catatan: Instrumen ini sebelumnya dikenal dengan singkatan TGM (Tingkat Kegemaran Membaca). Mulai tahun 2025, istilah tersebut diperbarui menjadi TKM. Makna dan tujuan pengukuran tetap sama, yaitu menilai kegemaran membaca masyarakat, hanya saja singkatannya disesuaikan dengan penyelarasan terminologi dalam dokumen resmi.
TKM tidak hanya menilai jumlah bacaan yang dikonsumsi masyarakat, tetapi juga memperhatikan proses membaca, motivasi, serta dampak yang ditimbulkan dalam kehidupan sehari-hari. Artikel ini akan membahas konsep TKM 2025, tiga fase utama yang diukur, prosedur perhitungannya, serta relevansinya dalam membangun budaya literasi di Indonesia.
Apa Itu TKM?
TKM (Tingkat Kegemaran Membaca) adalah indeks yang dirancang untuk mengetahui sejauh mana masyarakat Indonesia terbiasa membaca, baik dari sisi motivasi, kebiasaan, maupun tindak lanjut setelah membaca.
Berbeda dengan IPLM (Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat) yang menitikberatkan pada kinerja dan layanan perpustakaan, TKM lebih berfokus pada perilaku dan kebiasaan masyarakat dalam membaca.
Penyusunan TKM didasarkan pada teori motivasi membaca, hasil riset literasi internasional (UNESCO, National Literacy Trust, PISA), dan kajian perilaku membaca di berbagai negara. Dengan begitu, TKM tidak hanya relevan secara nasional, tetapi juga dapat dibandingkan dengan standar global.
Tiga Fase dalam TKM 2025
TKM 2025 disusun berdasarkan tiga fase utama aktivitas membaca:
1. Fase Pra-Membaca
Fokus pada faktor yang mendorong seseorang untuk mulai membaca. Contohnya: ketersediaan bahan bacaan di rumah, dukungan orang tua dan guru, hingga lingkungan literasi yang kondusif. Teori home literacy environment menunjukkan bahwa dukungan keluarga sejak dini sangat menentukan kebiasaan membaca di kemudian hari.
2. Fase Saat Membaca
Mengukur keterlibatan dan motivasi pembaca ketika berinteraksi dengan teks. Indikatornya antara lain: durasi membaca, minat terhadap jenis bacaan tertentu, hingga penggunaan strategi membaca. Fase ini menjawab pertanyaan penting: apakah membaca hanya menjadi kewajiban, atau benar-benar dinikmati sebagai aktivitas menyenangkan.
3. Fase Pasca-Membaca
Menilai sejauh mana membaca berdampak pada perilaku sehari-hari. Apakah setelah membaca, seseorang terdorong untuk berdiskusi, menulis, atau mengambil keputusan dengan lebih baik? Penelitian internasional membuktikan bahwa kegemaran membaca sejak kecil berhubungan dengan kecerdasan kognitif, kesejahteraan psikologis, hingga perkembangan sosial.
Ketiga fase ini saling terkait. Tanpa motivasi awal (pra-membaca), kebiasaan membaca tidak terbentuk. Tanpa keterlibatan saat membaca, kegiatan membaca terasa hambar. Dan tanpa tindak lanjut pasca-membaca, aktivitas tersebut tidak memberi dampak nyata.
Variabel Tambahan: Interaksi dengan Perpustakaan
Selain tiga fase, TKM juga memasukkan variabel tambahan berupa interaksi dengan perpustakaan.
Hal ini logis, karena perpustakaan adalah sarana utama masyarakat untuk mengakses bacaan. Data tentang frekuensi kunjungan, peminjaman buku, penggunaan fasilitas digital, hingga partisipasi dalam kegiatan literasi, semuanya menjadi indikator penting yang memperkaya gambaran kegemaran membaca.
Prosedur Perhitungan TKM 2025
TKM 2025 dihitung melalui beberapa tahap yang sistematis:
1. Pembersihan Data
Memastikan data responden valid dan bebas dari duplikasi.
2. Perhitungan Skor Indeks per Responden
Skor rata-rata dihitung untuk masing-masing fase. Bobot setiap fase: Pra-Membaca 15%, Saat Membaca 50%, Pasca-Membaca 35%.
3. Agregasi Skor per Kabupaten/Kota
Indeks individu digabungkan sesuai daerah asal responden. Hasilnya menjadi representasi kegemaran membaca tiap wilayah.
4. Normalisasi Skor ke Skala 0–1
Skor dipetakan dengan metode min-max scaling. Tujuannya agar distribusi skor antarwilayah lebih adil dan konsisten.
Dasar Ilmiah TKM 2025
Penyusunan TKM berlandaskan metodologi riset yang kuat:
- Motivations for Reading (Wigfield & Guthrie, 1997)
- Kerangka literasi UNESCO (2003)
- Skala Likert untuk mengukur sikap dan kebiasaan membaca
- Uji validitas & reliabilitas (Cronbach’s Alpha, korelasi item-total)
- Normalisasi indeks dengan min-max scaling sesuai pedoman OECD
Dengan kerangka ilmiah ini, TKM 2025 dapat dipertanggungjawabkan baik secara akademik maupun praktis.
Relevansi TKM bagi Budaya Literasi Indonesia
Bagi pustakawan dan pengambil kebijakan, TKM memiliki sejumlah manfaat nyata:
1. Memotret Kebiasaan Membaca Masyarakat
Hasil TKM memberikan gambaran apakah program literasi sudah benar-benar membudaya.
2. Menjadi Dasar Kebijakan Pemerintah Daerah
Data TKM bisa digunakan untuk merancang kampanye literasi, pengadaan buku, atau pembangunan fasilitas baca.
3. Menguatkan Peran Perpustakaan
Dengan memasukkan variabel interaksi, perpustakaan terbukti bukan sekadar penyedia buku, melainkan pusat aktivitas literasi.
4. Mendorong Kegiatan Literasi yang Bermakna
Pustakawan dapat merancang kegiatan yang tidak hanya seremonial, tetapi benar-benar memupuk kegemaran membaca di masyarakat.
Ajakan untuk Pustakawan dan Masyarakat
Agar TKM 2025 berhasil, partisipasi aktif semua pihak sangat penting.
- Bagi pustakawan: dokumentasikan setiap kegiatan literasi, dorong masyarakat untuk mengisi survei dengan jujur, dan tingkatkan inovasi layanan agar perpustakaan semakin relevan.
- Bagi masyarakat: jadikan membaca bagian dari rutinitas harian, manfaatkan perpustakaan sebagai ruang belajar bersama, dan libatkan anak sejak dini dalam kegiatan membaca di rumah.
Penutup
TKM 2025 adalah instrumen strategis untuk mengukur budaya membaca masyarakat Indonesia. Dengan menilai fase pra-membaca, saat membaca, pasca-membaca, serta interaksi dengan perpustakaan, TKM menghadirkan gambaran menyeluruh tentang kegemaran membaca kita.
Pesan utama: semakin tinggi skor TKM suatu daerah, semakin kuat pula fondasi literasi bangsa. Maka, mari bersama-sama menjadikan membaca sebagai gaya hidup, bukan sekadar kewajiban.
Ikuti survei TKM 2025 di wilayah Anda. Jadilah bagian dari gerakan nasional membangun budaya baca yang berkelanjutan.
Komentar:
Belum ada komentar.
Silakan login untuk mengomentari postingan ini.