Foto Profil admin admin

PoMS Library vs SLiMS, INLISLite, Eprints, dan DSpace: Kelebihan dan Kekurangan

Bagi pustakawan dan pengelola perpustakaan, memilih sistem manajemen perpustakaan adalah keputusan penting. Saat ini ada berbagai pilihan aplikasi: SLiMS (Senayan Library Management System), INLISLite (Inlislite dari Perpusnas), Eprints dan DSpace untuk repositori institusi, hingga platform baru seperti PoMS Library (Pustakawan.org Manajemen System).

Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Artikel ini akan membandingkan PoMS dengan beberapa sistem populer tersebut.

1. PoMS Library (Pustakawan.org Manajemen System)

Kelebihan:

  • Berbasis cloud sepenuhnya
  • Tidak perlu hosting atau domain sendiri. Cukup daftar di pustakawan.org, perpustakaan langsung online.
  • Mudah digunakan
  • Antarmuka modern, simpel, cocok untuk pustakawan pemula maupun sekolah/perpustakaan kecil.
  • Multi-perpustakaan per akun
  • Satu akun bisa mengelola lebih dari satu perpustakaan.
  • Terintegrasi dengan pustakawan.org
  • Perpustakaan otomatis terhubung ke direktori nasional pustakawan.org, meningkatkan visibilitas.
  • Fitur statistik otomatis
  • Analitik pengunjung OPAC, pencarian, dan katalog tersedia real-time tanpa konfigurasi tambahan.
  • Gratis & langsung aktif
  • Tidak perlu instalasi server, cukup klik "Buat Perpustakaan Baru".

Kekurangan:

  • Masih dalam tahap pengembangan
  • Beberapa fitur lanjutan (misalnya integrasi RFID, API khusus, manajemen repository ilmiah) masih terbatas.
  • Ketergantungan pada platform
  • Karena semua data ada di pustakawan.org, pengguna tidak punya kendali penuh atas server seperti di SLiMS/DSpace.
  • Belum sepopuler SLiMS/INLISLite
  • Adopsi masih awal, dokumentasi dan komunitas pengguna belum sebesar kompetitor.

2. SLiMS (Senayan Library Management System)

Kelebihan:

  • Open source & populer
  • Digunakan ribuan perpustakaan di Indonesia, komunitas besar, banyak tutorial.
  • Fitur lengkap
  • Mendukung katalogisasi, sirkulasi, keanggotaan, OPAC, bahkan modul multimedia.
  • Dapat dikustomisasi
  • Karena open source, pustakawan bisa menyesuaikan tampilan & modul sesuai kebutuhan.

Kekurangan:

  • Perlu server & domain
  • Perlu instalasi di server lokal atau hosting sendiri, menyulitkan bagi sekolah/perpustakaan kecil.
  • Maintenance lebih rumit
  • Harus update manual, backup database sendiri.
  • Tampilan relatif klasik
  • Meski ada tema modern, antarmuka SLiMS terkesan “lama” dibanding PoMS.

3. INLISLite

Kelebihan:

  • Resmi dari Perpusnas RI
  • Cocok untuk perpustakaan yang ingin integrasi ke sistem nasional.
  • Mendukung standardisasi data
  • Format MARC, ISBD, dan metadata perpustakaan umum di Indonesia.
  • Gratis
  • Bisa digunakan tanpa lisensi tambahan.

Kekurangan:

  • Kompleksitas tinggi
  • Tidak ramah bagi pemula, banyak menu teknis.
  • Butuh server/instalasi
  • Sama seperti SLiMS, perlu diinstal di hosting atau komputer khusus.
  • Kurang fleksibel
  • Fitur sering lebih kaku dibanding SLiMS maupun PoMS.

4. Eprints & DSpace (Repositori Institusi)

Kelebihan:

  • Khusus untuk repository ilmiah
  • Cocok untuk perguruan tinggi yang ingin menyimpan skripsi, tesis, disertasi, artikel jurnal.
  • Mendukung OAI-PMH & standar internasional
  • Bisa diharvest Google Scholar, DOAJ, Garuda, dan indeks lain.
  • Komunitas global
  • Banyak universitas di dunia menggunakan Eprints/DSpace.

Kekurangan:

  • Bukan sistem sirkulasi
  • Tidak mendukung peminjaman buku, keanggotaan, dan fitur khas perpustakaan umum.
  • Perlu server kuat & teknisi IT
  • Instalasi dan maintenance jauh lebih rumit dibanding SLiMS atau PoMS.
  • Tidak cocok untuk perpustakaan sekolah
  • Fokus pada repository, bukan koleksi umum.


Buka Link

Komentar:

Belum ada komentar.


Silakan login untuk mengomentari postingan ini.

Sebut Pengguna (Following)

×